The Loss Aversion
kenapa rasa sakit kehilangan sesuatu lebih kuat daripada rasa senang mendapatkannya
Pernahkah kita jalan-jalan santai, lalu tiba-tiba menemukan uang seratus ribu rupiah di jalan? Wah, rasanya pasti luar biasa. Kita tersenyum sendiri. Hati terasa ringan. Tapi, mari bayangkan skenario kedua. Kita baru saja menarik uang seratus ribu dari mesin ATM. Sepuluh menit kemudian, uang itu jatuh dari saku celana dan hilang entah ke mana. Coba ingat-ingat lagi rasanya. Kesal? Marah? Kepikiran sampai susah tidur di malam hari? Nah, ini adalah hal yang sangat aneh. Nominal uangnya sama persis. Tapi kenapa rasa sakit karena kehilangan terasa jauh lebih menusuk dan awet daripada rasa senang saat menemukannya? Mari kita bedah keanehan otak kita ini bersama-sama.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan atau karena kita kurang bersyukur. Untuk memahaminya, kita harus memutar waktu jauh ke belakang. Bayangkan nenek moyang kita hidup puluhan ribu tahun lalu di padang sabana. Kehidupan saat itu sangat keras. Mencari makan adalah urusan hidup dan mati. Kalau nenek moyang kita gagal mendapatkan satu porsi makanan tambahan, mereka mungkin hanya akan merasa lapar. Tapi, kalau mereka kehilangan satu-satunya pasokan makanan yang mereka simpan, taruhannya adalah nyawa. Alam menyeleksi manusia secara sangat ketat. Mereka yang sangat berhati-hati terhadap ancaman kehilangan punya peluang lebih besar untuk bertahan hidup dan mewariskan gennya kepada kita. Jadi, sifat benci kehilangan ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan hidup paling purba yang bersemayam di dalam DNA kita.
Masalahnya, dunia kita sudah berubah drastis. Sayangnya, otak kita masih beroperasi dengan sistem operasi zaman batu. Di dalam kepala kita, ada sebuah struktur kecil berbentuk kacang almond yang bernama amygdala. Bagian otak ini bertugas sebagai alarm tanda bahaya utama. Saat kita memindai otak menggunakan mesin fMRI, para ilmuwan ilmu saraf menemukan hal yang sangat menarik. Ketika kita dihadapkan pada potensi kehilangan uang atau barang, amygdala menyala terang benderang. Aktivitasnya jauh lebih heboh dibandingkan bagian otak penikmat hadiah saat kita mendapatkan sesuatu. Otak kita seolah berteriak panik, "Awas, bahaya mati!" padahal kita cuma kehilangan poin diskon belanja online. Pertanyaannya, seberapa parah sebenarnya otak kita melebih-lebihkan rasa sakit ini? Apakah ada ukuran pasti yang membuat kita sering mengambil keputusan yang sangat tidak logis sehari-hari?
Teka-teki ini akhirnya dipecahkan oleh dua psikolog legendaris, Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Mereka membuktikan secara sains bahwa manusia tidak pernah bertindak layaknya kalkulator yang rasional. Mereka merumuskan sebuah konsep yang kemudian mengubah dunia ekonomi dan psikologi selamanya: Loss Aversion atau keengganan terhadap kerugian. Melalui eksperimen yang panjang, mereka menemukan sebuah angka ajaib. Ternyata, rasa sakit akibat kehilangan terasa sekitar dua kali lipat lebih kuat dibandingkan kebahagiaan saat mendapatkan hal yang sama. Inilah alasan ilmiah kenapa kita berat sekali membuang baju lama yang bertahun-tahun tidak dipakai. Inilah sebabnya kita sering bertahan di pekerjaan atau hubungan yang beracun, hanya karena takut kehilangan rasa familier. Otak kita secara matematis telah menyabotase kita. Kita diprogram untuk lebih fokus menghindari kekalahan daripada mengejar kemenangan.
Memahami cara kerja loss aversion ini bagaikan menyalakan lampu terang di ruangan yang gelap. Kita akhirnya jadi paham kenapa kadang kita membuat keputusan yang merugikan diri sendiri. Tidak perlu merasa bodoh atau menyalahkan diri sendiri saat kita susah move on dari sesuatu yang hilang. Itu murni reaksi biologis yang wajar. Namun, karena sekarang kita sudah tahu bagaimana mesin di dalam kepala kita bekerja, kita punya kendali lebih. Lain kali teman-teman dihadapkan pada pilihan yang berat, berhentilah sejenak. Tarik napas panjang. Tanyakan pada diri sendiri secara kritis: "Apakah saya menghindari pilihan ini karena memang faktanya buruk, atau saya hanya sedang disetir oleh rasa takut kehilangan?" Kadang, berani merelakan sedikit rasa sakit di awal adalah satu-satunya jalan bagi kita untuk menemukan kebahagiaan yang jauh lebih besar di masa depan.